Profil Menteri Kesehatan Indonesia (Dr.dr.Endang Rahayu Sedyaningsih.MPH)
Wanita berdarah Banyumas, Jawa Tengah, ini lahir di Jakarta pada 1 Februari 1955. Jabatan terakhir adalah peneliti di bagian Penelitian dan Pengembangan Departemen Kesehatan. Suami dari, Dr. Reanny Mamahit, SpOG, MM Direktur RSUD Tangerang ini memulai karirnya setelah lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia pada Februari 1979. Ibu dari dua putra dan satu putri ini kemudian melanjutkan spesialisasi Kesehatan Masyarakat di Harvard School of Public Health di Boston, Amerika Serikat tahun 1992. Program doktor dia ambil di bidang dan kampus yang sama dan lulus pada 1997 Endang pernah menjabat sebagai Direktur Pusat Penelitian Biomedik dan Farmasi dan Pengembangan Program sejak 2007 Depkes RI.
Nama ibu berkacamata ini menjadi kontroversi terkait proyek Naval Medical Research Unit 2 (Namru-2). Perjalanan karir Endang di Dinas Kesehatan cukup panjang. Selepas kuliah di FKUI, Endang sempat bekerja di Rumah Sakit Pertamina Jakarta, pada 1979-1980. Kemudian, pada 1980-1983, Endang berangkat ke Nusa Tenggara Timur. Di lokasi ini, Endang menjabat Kepala Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) di Waipare, NTT. Lalu, dia berlanjut tugas kembali ke Jakarta. Endang dipercaya bertugas di Dinas Kesehatan Propinsi DKI pada 1983-1997. Tidak hanya di level lokal dan Tanah Air, karir Endang juga terbilang gemilang di kancah dunia.
Di Badan Kesehatan Dunia (WHO), Endang memegang peran penting. Dia menjabat penasihat teknis pada Departemen Penyebaran Penyakit dan Respons di Geneva, Swiss, tahun 1997-2006.
Karir Endang terus moncer, hingga menjadi koordinator riset Avian Influensa tahun 2006. Kini, Endang menjabat Direktur Pusat Riset dan Pengembangan Biomedis dan Farmasi, Departemen Kesehatan sejak Februari 2007, sebelum akhirnya diangkat menjadi Menteri Kesehatan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
Pengangkatan dirinya sebagai Menteri Kesehatan di Kabinet Indonesia Bersatu jilid II oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, sungguh tidak terduga. Akan tetapi, Endang Rahayu tetap berkomitmen dalam menjalankan jabatan sebagai Menteri Kesehatan dengan sebaik-baiknya meskipun terkesan sebagai ”pemain cadangan” menggantikan posisi Nila Juwita Moeloek yang tidak lolos fit and proper test.
Seperti dikutip surat kabar Media Indonesia, pemegang gelar doktor dari Harvard School of Public Health ini menargetkan untuk memperpanjang harapan hidup masyarakat Indonesia melalui reformasi kesehatan. Endang mengakui, untuk merealisasikan hal tersebut pasti akan ada banyak tantangan. Meskipun demikian, ia optimistis bisa melakukannya. ”Bagi saya ini masa transisi yang mesti saya konsolidasikan dulu,” katanya.
Endang Rahayu muncul di Cikeas pada hari terakhir. Pada saat itu, ia sedang memberikan seminar di Hotel Horison, Bekasi, ketika tiba-tiba dikontak oleh Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi. Setelah menerima telepon tersebut, ibu tiga orang anak itu langsung meluncur ke Cikeas untuk ‘wawancara’ di hadapan Presiden Yudhoyono dan Wakil Presiden Boediono.
Pernah Diskors
Sepak terjang Endang di bidang kesehatan tidak perlu diragukan lagi. Perjalanan kariernya dimulai dengan menjadi dokter di RS Pertamina Jakarta, pada 1979. Setelah itu, perempuan kelahiran Jakarta, 1 Februari 1955, ini menjadi kepala puskesmas di Waipare, Nusa Tenggara Timur, sebelum kembali ke Jakarta dan bekerja untuk Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta.
Karier istri Dr. Renny Mamahit, SpOG, MM ini terus menanjak hingga ia berhasil menjadi penasihat teknik bidang penyakit menular di Kantor Pusat WHO di Jenewa, Swiss pada 2001, serta Koordinator Peneliti Program Flu Burung sejak 2006 hingga sekarang.
Sebelum dilantik secara resmi sebagai Menteri Kesehatan oleh Presiden Yudhoyono, Kamis (22/10), Endang sempat merasakan pengalaman pahit sewaktu menjabat sebagai Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Biomedis dan Farmasi, Badan Litbang Depkes, pada 2007 silam. Ketika itu, ia disingkirkan dan diturunkan jabatan menjadi peneliti oleh Menkes Siti Fadilah Supari yang kini digantikannya.
Penyebabnya, Endang memberikan 12 sampel virus flu burung kepada Pusat Penanggulangan dan Pencegahan Kontrol Penyakit Amerika Serikat (USCDCP) di Atlanta, Amerika Serikat. Hal itu bertentangan dengan Siti Fadilah yang tidak mau memberikan sampel virus karena berpandangan hal itu hanya menguntungkan pihak asing. Atas tindakannya itu, Endang diskors karena dianggap berpihak kepada Amerika Serikat.
Jabatan:
* Peneliti Utama pada Pusat Penelitian Biomedis dan Farmasi, Badan Litbang Depkes, sampai 21 Oktober 2009
* Kepala Pusat Penelitian Biomedis dan Farmasi, Badan Litbang Depkes, Februari 2007
* Koordinator Peneliti Program Flu Burung 2006-sekarang
* Penasihat teknik bidang penyakit menular di Kantor Pusat WHO-Jenewa, Juli-Desember 2001
* Peneliti di STD-AIDS-RTI Pengembangan Program dan Riset Pengawasan Penyakit, 1997-2006
* Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, 1983-1997
* Kepala Puskesmas Waipare, NTT, 1980-1983
* Dokter di RS Pertamina Jakarta, 1979-1980 (OL-08)



Recent Comments