Filariasis (Kaki Gajah)

Definisi Kaki Gajah (Filariasis)

Kaki Gajah

Kaki Gajah

Filariasis (kaki gajah) adalah nama sekelompok penyakit tropis yang disebabkan oleh beberapa macam cacing bundar menyerupai benang (Nematoda) dan larvanya. Larva menularkan penyakit tersebut ke manusia melalui gigitan nyamuk. Filariasis (kaki gajah) ditandai dengan demam, menggigil, sakit kepala dan lesi kulit pada tahap awalnya, jika tidak diobati, dapat berkembang membentuk pembesaran nyata pada tungkai dan alat kelamin. Kondisi inilah yang disebut juga dengan kaki gajah (Elephantiasis).

Deskripsi Penyakit

Lebih kurang 170 juta orang di daerah tropis dan subtropis di Asia Tenggara, Amerika Selatan, Afrika dan Kepulauan Pasifik terjangkit penyakit parasit yang menimbulkan kecacatan ini. Walaupun filariasis jarang menyebabkan kematian, namun adalah penyebab utama kedua penyebab kecatatan permanen dan jangka panjang di dunia. WHO telah menyatakan bahwa Filariasis (kaki gajah) sebagai salah satu dari enam penyakit infeksi yang potensial untuk dieradikasi dan WHO telah memulai program 20 tahun untuk mengeradikasi penyakit ini.

Dalam semua kasus, seekor nyamuk mula-mula menggigit seorang individu yang terjangkit lalu menggigit individu lain yang belum terjangkit, memindahkan beberapa larva cacing kepada individu yang baru. Saat berada di dalam tubuh, larva bermigrasi ke bagian tubuh tertentu dan tumbuh menjadi cacing dewasa. Filariasis (kaki gajah) digolongkan menjadi tiga jenis yang berbeda berdasarkan bagian tubuh yang terinfeksi. Klasifikasi tersebut adalah Limfatik Filariasis yang mempengaruhi sistem sirkulasi yang memindahkan cairan jaringan dan sel imun (sistem limfatik), Filariasis Subkutan menginfeksi area di bawah kulit dan bagian putih dari bola mata, Filariasis Rongga Serosa menginfeksi rongga tubuh namun tidak menyebabkan penyakit. Beberapa jenis cacing yang berbada bertanggung jawab untuk setiap jenis Filariasis, namun spesies yang paling sering adalah Wucheria Bancrofti, Brugia Malayi (Filariasis Limfatik), Onchocerca Voulvulus, Loa loa, Mansonella Streptocerca, Dracunculus Medinensis (Filariasis Subkutan), Mansonella Pustans dan Mansonella Ozzardi (Filariasis Rongga Serosa).

Dua tipe yang paling sering dari penyakit ini adalah Filariasis dari cacing Bancrofti dan Malayan yang menyebabkan Filariasis Limfatik. Varietas Bancrofti ini ditemukan di seluruh Afrika, Asia Selatan dan Asia Tenggara, Kepulauan Pasifik dan area tropis dan subtropis di Amerika Selatan dan Karibia. Malayan hanya ditemukan di Asia Selatan dan Asia Tenggara.

Cacing Filariasis

Cacing Filariasis

Larva tumbuh menjadi cacing dewasa dalam enambulan sampai satu tahun dan dapat hidup antara empat dan enam tahun. Tiap cacing betina dapat memproduksi jutaan larva, dan larva-larva tersebut hanya muncul di dalam aliran darah saat malam hari, ketika mereka mungkin ditransmisikan, melalui gigitan serangga kepada individu lain. Sebuah gigitan tunggal biasanya tidak cukup untuk menimbulkan infeksi, sehingga pelancong jangka pendek biasanya aman. Gigitan berulang secara serial dalam periode tertentu diperlukan untuk menyebabkan suatu infeksi Sebagai akibatnya, individu yang terkena tersebut adalah yang biasa aktif di luar rumah pada malam hari dan mereka-mereka yang menghabiskan waktu yang banyak di area hutan pedalaman.

Diterjemahkan dariĀ  Gale Encyclopedia of Medicine (Carol A. Turkington) oleh dr. Dody Pratama Masri

Leave a Reply

 

 

 

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Share