<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>DuniaKedokteran.com&#187; Orthopaedi</title>
	<atom:link href="http://duniakedokteran.com/tag/orthopaedi/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://duniakedokteran.com</link>
	<description>Informasi Kedokteran dan Kesehatan Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Wed, 02 Dec 2009 03:39:53 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Sejarah Orthopaedi Zaman Kuno (oleh: Vlasios Brakoulias)</title>
		<link>http://duniakedokteran.com/orthopaedi/sejarah-orthopaedi-zaman-kuno-oleh-vlasios-brakoulias</link>
		<comments>http://duniakedokteran.com/orthopaedi/sejarah-orthopaedi-zaman-kuno-oleh-vlasios-brakoulias#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Nov 2009 13:08:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dody</dc:creator>
				<category><![CDATA[Orthopaedi]]></category>
		<category><![CDATA[Bedah]]></category>
		<category><![CDATA[Kedokteran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://duniakedokteran.com/?p=16</guid>
		<description><![CDATA[Sejarah Orthopaedi Dunia Zaman Kuno]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>ZAMAN PRIMITIF</strong></p>
<p>Walaupun kita tidak memiliki riwayat sejarah tertulis, manusia purba menyediakan bagi kita fosil-fosil. Ini menunjukkan bahwa patologi yang sama telah ada sejak zaman kuno, walaupun penyebab lingkungan dari banyak dari penyakit zaman sekarang jarang ditemukan. Bukti adanya patah tulang ditemukan, yang beberapa penyembuhan terjadi dengan alignment yang cukup baik. Hal ini sangat menarik untuk dicatat, dimana memberikan kita informasi secara etis efek dari tidak dilakukan pengobatan sama sekali, seperti melakukan istirahat dengan insting dan gerakan awal (early motion). Tidak dapat disangkal lagi dalam beberapa bukti, manusia primitive membuat bidai yang sangat sederhana. Manusia primitive juga mungkin yang pertama melakukan amputasi sederhana terhadap ekstremitas dan jari, serta membuka tengkorak.</p>
<div id="attachment_17" class="wp-caption alignleft" style="width: 160px"><img class="size-thumbnail wp-image-17" title="Ancient Ortho Symbol" src="http://duniakedokteran.com/wp-content/uploads/2009/11/new_ortho_symbol-150x150.jpg" alt="Ancient Ortho Symbol" width="150" height="150" /><p class="wp-caption-text">Ancient Ortho Symbol</p></div>
<p><strong>MESIR KUNO</strong></p>
<p>Tubuh mumi, lukisan dinding dan hieroglif telah menunjukkan kita bahwa orangorang Mesir mengalami masalah yang sama dengan yang kita hadapi saat ini. Mereka juga menunjukkan kita beberapa praktek Orthopaedi dari zaman tersebut. Bidai telah ditemukan pada mumi yang terbuat dari bamboo, dahan, akar yang dilapisi kain. Juga terdapat penggunaan tongkat (crutch) dimana terdapat bukti pada ukiran yang dibuat pada 2830 BC pada pintu masuk Hirkouf Tomb.</p>
<p>Mungkin yang paling penting sumber yang melukiskan praktek di Mesir Kuno terdapat pada Papyrus, yang dicuri dari sebuah makam pada 1862. Papyrus itu kemudian dijual pada Egyptologist amerika yang bernama Edwin Smith sehingga kadang disebut dengan Edwin Smith Papyrus. Pengarangnya tidak diketahui, namun dipercayai adalah Imhotep. Imhotep dikenal sebagai seorang jenius pada masa itu. Dia adalah dokter, arsitek, astrolog dan juga perdana menteri yang tidak terlalu dikenal pada masa Mesir dan Yunani, dengan beberapa bukti bahwa dia baru dikenal luas 100 tahun setelah kematiannya.</p>
<p>Dalam papyrus tersebut, pemeriksaan perifer diterangkan bersama dengan pemahaman bahwa nadi mencerminkan aksi jantung dimana pembuluh darah berjalan menuju anggota gerak. Pada papyrus tersebut cedera diklasifikasi berdasarkan prognosis menjadi tiga kategori: suatu penyakit dimana akan ditangani, penyakit yang mereka akan berusaha tangani, dan penyakit yang merekatidakakan tangani. Papyrus juga menyebutkan banyak kasus dan penanganan-penanganan yang dilakukan. Ini termasuk, mereduksi dislokasi mandibul, tanda-tanda cedera spinal, tanda torticollis, penangan fraktur klavikula dan juga tanda dan penaganan fraktur lain. <em>Discharge</em> mereka sebut sebagai <em>ryt</em>, yang diduga sebagai pus pada osteomyelitis.</p>
<p><strong>YUNANI KUNO</strong></p>
<p>Banyak prinsip dibelakang kondisi dan penanganannya telah dihubungkan dengan Yunani Kuno. Mereka dapat dianggap sebagai yang pertama yang menerapkan pendekatan ilmiah, namun mereka juga yang pertama mendokumentasikan detail dari sejarah dan perkembangan mereka. Homer sendiri, pada kontribusinya dalam perang Trojan telah memberikan kita penglihatan yang cukup dalam pemahaman cedera saat itu dan penanganan yang dilakukan untuk cedera-cedera tersebut. Iliad juga mengandung referensi mengenai berbagai deformitas. Ahli anatomi Yunani dari Aleksandria, selama abad ketiga SM juga adalah kontribtor yang hebat. Herophilus, yang dipercaya telah mempraktekkan disseksi manusia, dihargai sebagai yang pertama membedakan syaraf atas komponen sensoris dan motorik dan juga yang pertama membedakan antara arteri dan vena. Hegetor juga dari Aleksandria, namun pada 100 SM, menerangkan dengan detail hubungan anatomi dari sendi panggul dan juga yang pertama menerangkan tentang ligamentum teres.</p>
<p>Pada periode 430 dan 330 SM, sebuah teks Yunani sangat penting disusun yang dikenal sebagai Corpus Hippocrates. Diberikan nama akhiran Hipokrates yang dikenal sebagai bapak kedokteran. Hipokrates dilahirkan di pulau Cos pada 460 BC dan meninggal di usia tua pada 370 BC. Dia dikenal telah membawa pendekatan sistematis dan ilmiah pada kedokteran dan telah menjelaskan untuk pertama kali posisi dan peran dokter dalam komunitas. Walaupun berabad-abad telah berlalu, Sumpah Hipokrates akan selalu menjadi pusat dari praktek kita.</p>
<p>Beragam bab dalam Corpus Hipokrates yang relevan dengan Orthopaedi. Salah satunya adalah bab mengenai sendi. Disini dislokasi bahu digambarkan bersama dengan metode reduksinya. Juga terdapat bagian menjelaskan reduksi akromioklavikular, temporomandibular, lutut dan panggul serta dislokasi sendi siku. Koreksi <em>Clubfoot</em> juga diterangkan. Masalah infeksi setelah fraktur <em>compound</em> telah diterangkan dan ditangani dengan <em>pitch cerate</em> dan kompres anggur tanpa perban yang kuat. Ekplorasi yang berlebihan terhadap fraktur <em>compound</em> juga telah dihindari.</p>
<p>Hipokrates mempunyai pemahaman yang menyeluruh terhadap fraktur. Dia mengetahui prinsip traksi dan <em>counter</em>-traksi. Dia mengembangkan bidai khusus untuk fraktur tibia, mirip dengan fiksasi eksternal. Hipokrates juga mengembangkan Kursi Hipokrates atau Scamnum. Dari semua perkembangan yang diberikan Hipokrates kepada kita, observasi klinisnya dan pemkiran rasionalnyalah yang paling harus kita hargai.</p>
<p><strong>ERA ROMAWI</strong></p>
<p>Walaupun pengajaran Hipokrates mendominasi pemikiran untuk beberapa abad setelah kematiannya, namun ada pula beberapa kontributor terhadap Orthopaedi yang berharga untuk disebut-sebut. Saat era Romawi, terdapat seorang figure Yunani yang dihormati bernama Galen (129-199 SM). Di berasal dari Pergamon dan menjadi ahli bedah gladiator di sana sebelum pindah ke Roma. Galen sering dianggap sebagai “Bapak Kedokteran Olahraga”. Dia memberikan pemahaman mengenai rangka dan otot yang menggerakkannya. Secara khusus, juga cara penyampaian sinyal dari otak menuju syaraf dan otot. Dia pertama mencatat mengenai kasus <em>cervical ribs</em>. Dia menjelaskan destruksi tulang, sequestrasi dan regenerasi pada osteomyelitis dan kadang melakukan reseksi pada kasus-kasus tersebut. Galen dipercaya menjadi yang pertama menggunakan istilah Yunani, “Kifosis, Lordosis dan Skoliosis” untuk deformitas yang diterangkan dalam teks Hipokrates. Dia juga merancang beberapa metode untuk mengoreksi deformitas tersebut.</p>
<p>Saat periode Graeco-Roman, terdapat juga upaya untuk menyediakan prosthesis buatan. Terdapat beberapa catatan mengenai tungkai kayu, tangan besi dan kaki palsu. Soranus dari Ephesus juga dikatakan telah pertama kali menerangkan mengenai <em>rickets</em>. Rufus dari Ephesus menerangkan ganglia tendon dan penangannya dengan kompresi. Antyllus pada abad ketiga dikatakan telah mempraktekkan tonotomi subkutan untuk meredakan kontraktur di sekitar sendi. Dikatakan pula dia telah menggunakan jahitan linen dan catgut untuk prosedur tersebut. Bermacam bor, gergaji dan pahat juga dikembangkan pada periode tersebut.</p>
<p><strong>ERA ARAB</strong></p>
<p>Walaupun praktek kedokteran Arab disangka sebagai ekstensi dari teks-teks Yunani, penggunaan Plaster of Paris pada Abad ke-10 sangat signifikan. Dengan penambahan air pada bubuk <em>anhydrous calcium sulphate</em>, maka sebuah material kristalin yang keras terbentuk. Seorang Persia bernama Abu Mansur Mufawwak menjelaskan pembungkusan plaster pada fraktur dan cedera tulang lainnya pada ekstremitas.</p>
<p>(Diterjemahkan oleh dr.Dody Pratama Masri dari <a title="http://www.worldortho.com" href="http://www.worldortho.com" target="_blank">http://www.worldortho.com</a>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://duniakedokteran.com/orthopaedi/sejarah-orthopaedi-zaman-kuno-oleh-vlasios-brakoulias/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sejarah Bedah Orthopaedi Indonesia</title>
		<link>http://duniakedokteran.com/orthopaedi/sejarah-bedah-orthopaedi-indonesia</link>
		<comments>http://duniakedokteran.com/orthopaedi/sejarah-bedah-orthopaedi-indonesia#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Nov 2009 23:31:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dody</dc:creator>
				<category><![CDATA[Orthopaedi]]></category>
		<category><![CDATA[Bedah]]></category>
		<category><![CDATA[Kedokteran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://duniakedokteran.com/?p=8</guid>
		<description><![CDATA[Sejarah Bedah Orthopaedi Indonesia]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebelum ada pendidikan resmi spesialis Bedah Orthopaedi, untuk mendapatkan keahlian ilmu bedah ini, seorang staf dosen ahli bedah dari bagian dikirim untuk tugas belajar ke luar negeri, khusus dalam bedah orthopaedi. FKUI mengirim dr. Soebiakto W ke Boston USA, dr Nagar Rasjid ke London-UK, dr Soelarto Reksoprodjo ke Paris-Perancis. Dari RSPAD Dr. Soejoto dikirim ke Walter Reed USA dan banyak staf RSPAD dikirim ke Kobe Jepang (dr Syamsul Ma’arif, dr Misban, dr Budiarso Sarwono, dr PT Simatupang dan dr Hara Marpaung).</p>
<div id="attachment_11" class="wp-caption alignleft" style="width: 160px"><img class="size-thumbnail wp-image-11 " title="Orthopaedic Tree" src="http://duniakedokteran.com/wp-content/uploads/2009/11/tree-150x150.gif" alt="Orthopaedic Tree" width="150" height="150" /><p class="wp-caption-text">Orthopaedic Tree</p></div>
<div>Prof. Dr. R. Soeharso sebagai pendiri Pusat Rehabilitasi Surakarta, yang mendapat bantuan dari Ankatan Darat (Jenderal Gatot Soebroto) dan QHO beserta spesialis bedah orthopaedi dan fisioterapi dari berbagai Negara, beliau mengembangkan ilmu beah Orthopaedi dari segi rehabilitasi. Banyak cacat veteran korban perang merebut kemerdekaan Indonesia, yang memerlukan rehabilitasi fisik seperti pemberian kaki-tangan palsu (ortosis). Bersama Bapak Suroto, seorang teknisi, beliau mendirikan “bengkel kaki-tangan palsu”. Kemudian bengkel ini dikembangkan menjadi Pusat Rehabilitasi Solo yang dilengkapi dengan sarana pendidikan untuk paramedic rehabilitasi seperti sekolah perawat fisioterapi, perawat rehabilitasi (oleh Ibu Suroto), dan ortosis prosthesis (oleh Bapak Suroto). Selain Pusat Rehabilitasi, juga didirikan Rumah Sakit Lembaga Orhopaedi dan Prosthesis (LOP).</div>
<p><strong>Orthopaedi Training di Indonesia</strong></p>
<div>Pada Kongres WPOA di Hong Kong tahun 1968, Prof. Dr. R. Soeharso sempat membicarakan tentang pendidikan ahli bedah orthopaedi di Indonesia dengan Allan Mc Kelvie (USA) dan John Jen (Australia). Follow-up pembicaraan ini dilanjutkan dengan kunjungan survey oleh Prof. Hilman dari Campbell Clinic Tennessee (USA) ke Jakarta pada tahun 1968.</div>
<div>Pembicaraaan yang dilakukan bersama pimpinan FKUI/RSCM dan Prof. Dr. R. Soeharso dengan Prof. Hilman (CARE Medico Orthopaedic Overseas), memutuskan untuk mengadakan pendidikan berupa Orthopaedic Training Program di FKUI/RSCM sebagai wakil P &amp; K dan DepKes, dengan bantuan CARE Medico dari Orthopaedic Overseas.</div>
<div>Pada tanggal 1 Oktober 1968 dimulailah pendidikan Orthopaedic Training Program dengan gur atau konsultan yang dating dari Amerika Utara dan Australia secara bergantian setiap bulan.</div>
<div>Konsultan pertama adalah Dr. Harry Fahrni dari Vancouver Canada bersama istrinya Jeanne Fahrni (seorang perawat kamar bedah) yang turut membantu beliau di kamar operasi.</div>
<div>Pendidikan Orthopaedic Training Program berlangsung selama 2 tahun setelah ahli bedah. Lahan pendidikan selain RSCM adalah RS Fatmawati setiap hari Rabu dan Jumat, YPAC setiap hari Selasa dan RS Solo pada akhir pendidikan. Sebagai trainee pertama adalah dr Sumanto yang pada saat itu sedang bertugas di UNAND, Padang dan dr Syahbudin Tajib Salim, ahli bedah RS Fatmawati. Namun baru 1 bulan berjalan , dr Sumanto tidak dapat meneruskan pendidikan, diganti oleh dr Soelarto Reksoprodjo. Dengan keikutsertaan dr Soelarto dalam program pendidikan ini, dimana setiap jumat dr Soelarto senantiasa membantu menanggulangi kasus orthopaedi di RS PMI Bogor, maka secara tidak resmi RSPMI Bogor pun dikunjungi setiap minggu, setelah acara RS Fatmawati. Apalagi pada saat itu kasus orthopaedi di RS Fatmawati umumnya adalah kasus TBC tulang belakang, dan belum banyak kasus orthopaedi. KUnjungan ke RS PMI Bogor diisi dengan melakukan konsultasi dan operasi kasus orthopaedi terutama fraktur. Dr Indradi Roosheroe sebagai direktur RS PMI( Bogor akhirnya tertarikuntuk ikut menjadi peserta pendidika, dan turut bergabung setelah dr Chehab Rukni Hilmy (UI) dan dr IP Sukarna (UNAIR) yang lebih dahulu menjadi trainee pada 1969, dr Subroto Sapardan (UI) dan dr Ichwan P Radjamin (UNAIR) pada tahun 1970, dr R Saleh Mangunsudirjo (UNDIP) dan dr Indradi Roosheroe pada tahun 1971.</div>
<div>Demikianlah pendidikan ini berlangsung seterusnya. Sejak tahun 1973 peserta setiap semester menjadi 4 orang, dimulai oleh dr Chairuddin Rasyad (UNHAS), dr Djoko Roeshadi (UNAIR), dr Ahmad Djojosugito (UNPAD) dan dr Errol Untung Hutagalung (UI), yang merupakan trainee terakhir yang mengikuti secara penuh orthopaedic training program bantuan Orthopaedic Overseas sampai dengan 1975.</div>
<div>Pada bulan November 1974 PABOI (Perkumpulan Ahli Bedah Orthopaedi Indonesia) menyelenggarakan Pertemuan Ilmiah International, yang pada saat itu sudah beranggotakan 17orang. Pertemuan tersebut dinyatakan sebagai Kongres I PABOI. Pada saat evaluasi semi-annual bulan Mei 1975, pemerintah RI cq DepKes menghentikan program pendidikan bantuan CARE Medico. Selanjutnya pendidikan dilaksanankan oleh ahli dari Indonesia sendiri. Segera setelah itu PABOI sebagai perkumpulan profesi membuat kurikulum pendidikan ahli bedah orthopaedi.</div>
<div>Pada tahun 1975 semua jenis pendidikan diambil alih oleh P &amp; K dan pendidikan ahli yang dulu dilaksanakan oleh perkumpulan profesi dijadikan Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dibawah P &amp; K.</div>
<div>
<p>Dalam spesialisasi, berdasarkan prioritas yang dibutuhkan Negara, hanya 14 jenis program pendidikan dokter spesialis yang mendapat pengakuan oleh CMS (Consortium Medical Sciences). Istilah CMS kemudian berubah menjadi CHS (Consortium Health Sciences). Walaupun demikian pendidikan ahli bedah orthopaedi tetap berlangsun. Di Bandung, (sebagai tempat kelahiran PABOI pada tanggal 25 September 1969), dalam pidatonya, Mentreri P &amp; K yang dibacakan oleh Dirjen Dikti Prof. Doddy, Departemen P &amp; K menyatakan pengakuan Orthopaedi sebagai PPDS. Oleh karenanya pendidikan ini dapat menerima sebagian pesertanya yang terdiri dari dokter umum setelah melaksanakan WKS (wajib kerja sarjana di puskesmas) dan realisasinya baru mulai terlaksana pada bulan januari 1981. Pendidikan berlangsung berdasarkan catalog kurikulum PPDS yang diakui CHS dengan jumlah SKS 100 yang terdiri dari:</p></div>
<ul>
<li>
<div>Pengetahuan teori dasar bedah orthopaedi (8 SKS)</div>
</li>
<li>
<div>Pengetahuan teori klinik bedah dasar umum dan khusus bedah (8 SKS)</div>
</li>
<li>
<div>Pengetahuan teori klinik khusus orthopaedi (12 SKS)</div>
</li>
<li>
<div>Keterampilan (diagnostic) (5,5 SKS)</div>
</li>
<li>
<div>Pengetahuan penggunaan alat (1 SKS)</div>
</li>
<li>
<div>Tindakan perawatan non operatif (3,5 SKS)</div>
</li>
<li>
<div>Tindakan operatif (38,5 SKS)</div>
</li>
<li>
<div>Tanggung jawab (6 SKS)</div>
</li>
<li>
<div>Kegiatan Ilmiah (14 SKS)</div>
</li>
<li>
<div>Kegiatan mendidik (3 SKS)</div>
</li>
<li>
<div>Teori penelitian dasar atau lanjutan dan penulisan tesis (2,5 SKS)</div>
</li>
</ul>
<div>
<p>Katalog ini kemudian diperbaharui menjadi 2 tahun bedah dasar dan 2,5 tahun khusus orthopaedi. Pusat pendidikan yang ditunjuk adalah Jakarta (UI) dan Surabaya (UNAIR). Dengan demikian produksi ahli atau spesialis bedah orthopaedi dapat berkembang lebih pesat.</p></div>
<div>Walaupun sudah tidak ada hubungan secara resmi dengan luar negeri, namun karena tetap ada jalinan hubungan pribadi, maka ujian akhir ilmu Bedah Orthopaedi yang dilaksanakan oleh PABOI dan pusat pendidikan, tetap mengikut-sertakan penguji luar terutama dari Australia dan Singapura, bahkan juga dari Amerika, Kanada, Perancis, dan Jepang. Sampai saat ini ujian akhir tetap diselenggarakan oleh PABOI bekerjasama dengan pusat pendidikan, dengan mengundang penguji luar dari Singapura dan Australia.</div>
<div>Pusat pendidikan pun bertambah dengan UNPAD Bandung pada tahun 1988 dan sekarang UNHAS Ujung Pandang telah pula menjadi pusat pendidikan ke 4 (empat). Ujian akhir tetap diselenggarakan oleh PABOI sebagai salah satu kegiatannya yang dilakukan melalui kerjasama dengan pusat pendidikan, dengan cara bergiliran tempat serta pelaksanaannya di pusat pusat pendidikan setiap tahun (2 kali/setahun)</div>
<p align="justify">Di samping pendidikan dokter spesialis orthopaedi, PABOI sebagai perkumpulan profesi telah mempunyai peserta seminatan dalam bidang tertentu dalam lingkungan bedah orthopaedi. Bedah tulang belakang sejak bulan juli 1994 telah menyelenggarakn Fellowship Training in Spine Surgery bagi mereka (spesialis bedah orthopaedi) yang ingin mendalami bedah tulang belakang di Jakarta oleh FKUI dibawah koordinasi pimpinan dr Subroto Sapardan. Setiap semester bisa menerima seorang peserta. Peserta fellowship ini dikirim ke USA selama 3 bulan belajar di tempat Prof Hansen A Yuan, Syracuse University of New York USA. Pendidikan fellowship ini selama 1 (satu) tahun. Dalam berbagai bidang keahlian atau spesialisasi , muncul kelompok seminatan seperti bedah tangan (hand surgery), paediatrik dan seterusnya sesuai dengan perkembangan dunia internasional terutama dari WPOA (Western Pacific Orthopaedic Association) yang sekarang berubah menjadi APOA (Asia Pacific Orthopaedi Association). Diambil dari buku ….. prof soelarto reksoprodjo.  (dikutip dari <a title="http://orthoui-rscm.org" href="http://orthoui-rscm.org" target="_blank">http://orthoui-rscm.org</a>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://duniakedokteran.com/orthopaedi/sejarah-bedah-orthopaedi-indonesia/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
