|
|
Apakah itu Flu Babi (H1N1)?
H1N1 yang sering disebut flu babi adalah sebuah virus influenza baru yang dapat menimbulkan penyakit pada manusia. Virus baru ini dideteksi pada manusia sekitar bulan April 2009. Virus ini menyebar dari orang ke orang di seluruh dunia, kemungkinan dengan cara yang sama dengan influenza musiman yang biasa terjangkit. Pada tanggal 11 Juni 2009, WHO memberi sinyal bahwa wabah pandemik H1N1 2009 telah berlangsung.
 Virus H1N1 Influenza
Kenapa H1N1 disebut dengan Flu Babi?
Virus ini semulanya disebut sebagai “flu babi” karena percobaan laboratorium menunjukkan bahwa banyak dari gen dari virus baru ini sangat mirip dengan virus influenza yang biasa terjangkit pada babi di Amerika Utara. Namun penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa virus ini sangat berbeda dengan virus yang normalnya beredar pada babi-babi di Amerika Utara tersebut. Virus ini ternyata hanya memiliki dua gen dari virus flu yang beredar pada babi-babi Amerika Utara dan juga memiliki ge yang mirip dengan gen burung (avian) serta gen manusia. Para peneliti menyebutnya sebagai virus “quadruple reassortant”.
Apakah H1N1 menular?
H1N1 menular dan menyebar dari manusia ke manusia.
Bagaimana H1N1 menyebar?
Penyebaran virus H1N1 diperkirakan berlangsng dengan cara yang sama dengan virus flu musiman biasa. Virus flu disebarkan melalui batuk dan bersin oleh penderita influenza. Kadangkala orang dapat terinfeksi dengan menyentuh sesuatu (seperti permukaan atau benda-benda) yang mempunyai virus flu yang menempel lalu menyentuh hidung atau mulutnya sendiri.
Apakah penderita dapat terkena H1N1 lebih dari satu kali?
Apabila terinfeksi dengan virus influenza jenis apapun, akan menyebabkan tubuh anda mengembangkan resistensi imun (kekebalan) terhadap virus tersebut sehingga tidak menyebabkan seseorang terinfeksi dengan virus influenza identik lebih dari satu kali. Namun, seseorang dengan sistem imun yang lemah dapat saja tidak mampu mengembangkan resistensi imun yang lengkap terhadap virus sehingga dapat terinfeksi virus influenza jenis yang sama lebih dari satu kali. Juga memungkinkan bahwa seseorang dapat meiliki hasil tes positif terhadap infeksi flu lebih dari sekali dalam suatu musim influenza. Hal ini dapat terjadi karena:
1. Seseorang terinfeksi dengan virus influenza yang berbeda, contohnya pertama kali dengan H1N1 dan kedua kali dengan virus influenza musiman biasa. Sebagian besar tes yang dilakukan dengan cepat (rapid testing) tidak dapat membedakan virus influenza yang mana yang bertanggung jawab menimbulkan penyakit.
2. Tes influenza kadangkala dapat memberikan hasil positif palsu dan negatif palsu sehingga mungkin saja salah satu hasil tes adalah keliru. Hal ini lebih mungkin terjadi apabila diagnosis dibuat dengan tes flu yang cepat (rapid).
Apakah tanda dan gejala dari virus pada manusia?
Gejala virus H1N1 pada manusia seperti gejala influenza biasa termasuk demam, batuk, nyeri tenggorokan, hidung meler, nyeri pada seluruh tubuh, nyeri kepala, menggigil dan kelelahan. Beberapa orang dapat menderita muntah dan diare. Orang-orang juga dapat terinfeksi dengan gejala pernafasan tanpa adanya demam. Penyakit yang berat dan kematian juga dapat terjadi sebagai hasil dari penyakit akibat virus ini.
Seberapa parahkah penyakit yang berkaitan dengan virus H1N1 ini?
Penyakit akibat virus ini dapat berkisar pada gejala ringan sampai berat. Walaupun sebagian besar penderita dapat pulih tanpa perlunya penanganan medis, namun perawatan dan kematian akibat infeksi virus ini juga dapat terjadi.
Pada flu musiman, beberapa orang beresiko tinggi terhadap komplikasi yang serius. Kelompok orang ini adalah orang berusia 65 tahun atau lebih tua, anak-anak di bawah umur 5 tahun , wanita hamil dan orang-orang dengan kondisi medis yang kronis. Sebanyak 70% dari orang-orang yang dirawat akibat virus H1N1 ini telah memiliki satu atau lebih kondisi medis sebelumnya yang menyebabkan mereka termasuk kelompok resiko tinggi komplikasi. Hal ini termasuk kehamilan, diabetes, penyakit jantung, asma dan penyakit ginjal.
Berapa lama seseorang yang terinfeksi dapat menularkan virusnya kepadao rang lain?
Sesorang yang trinfeksi dapat menularkan kepada orang lain mulai dari 1 hari sebelum timbul gejala penyakit sampai 5-7 hari setelahnya. Hal ini dapat menjadi lebih lama pada beberapa orang, terutama anak-anak dan orang dengan sistem imun yang lemah dan juga orang-orang yang terinfeksi virus H1N1 jenis baru.
Apa yang dapat anda lakukan untuk melindungi diri dari penyakit ini?
Vaksin flu adalah salah satu upaya penting menghindari infeksi virus ini. Terdapat pula kebiasaan harian yang dapat membantu anda menghindari penularan.
- Tutup hidung dan mulut anda dengan tisu saat batuk atau bersin. Buang tisu ke tong sampah setelah anda menggunakannya.
- Cuci tangan anda dengan sabun dan air sesering mungkin. Jika sabun dan air tidak tersedia, gunakan pembersih tangan yang berbasis alkohol.
- Hindari menyentuh mata, hidung dan mulut. Kuman mudah menyebar dengan cara ini.
- Upayakan menghindari kontak dekat dengan orang yang sakit.
- Apabila anda menderita penyakit yang menyerupai flu, direkomdasikan bahwa anda menetap di rumah paling tidak selama 24 jam setelah demamnya hilang kecuali untuk memperoleh bantuan medis ataupun keperluan mendesak lainnya. Demam anda akan hilang tanpa penggunaan obat penurun panas. Jauhi orang lain sebaik mungkin untuk mencegah mereka terkena penyakit.
Berapa lama virus influenza dapat hidup di benda-benda (seperti buku atau benda lain)?
Penelitian menunjukkan bahwa virus hidup sampai dengan 2 hingga 8 jam setelah menempel di permukaan suatu benda.
Apa yang dapat membunuh virus influenza?
Virus H1N1 dihancurkan oleh panas (75-100 Celcius). Beberapa pembunuh kuman seperti Klorin, Hidrogen Peroksida, deterjen (sabun), antiseptik berbasis Yodium dan alkohol adalah efektif melawan virus influenza manusia jika digunakan dalam konsentrasi yang cukup dan dalam waktu yang cukup.
(Disadur dari Centers of Disease Control and Prevention)
DuniaKedokteran.com
Definisi Kaki Gajah (Filariasis)
 Kaki Gajah
Filariasis (kaki gajah) adalah nama sekelompok penyakit tropis yang disebabkan oleh beberapa macam cacing bundar menyerupai benang (Nematoda) dan larvanya. Larva menularkan penyakit tersebut ke manusia melalui gigitan nyamuk. Filariasis (kaki gajah) ditandai dengan demam, menggigil, sakit kepala dan lesi kulit pada tahap awalnya, jika tidak diobati, dapat berkembang membentuk pembesaran nyata pada tungkai dan alat kelamin. Kondisi inilah yang disebut juga dengan kaki gajah (Elephantiasis).
Deskripsi Penyakit
Lebih kurang 170 juta orang di daerah tropis dan subtropis di Asia Tenggara, Amerika Selatan, Afrika dan Kepulauan Pasifik terjangkit penyakit parasit yang menimbulkan kecacatan ini. Walaupun filariasis jarang menyebabkan kematian, namun adalah penyebab utama kedua penyebab kecatatan permanen dan jangka panjang di dunia. WHO telah menyatakan bahwa Filariasis (kaki gajah) sebagai salah satu dari enam penyakit infeksi yang potensial untuk dieradikasi dan WHO telah memulai program 20 tahun untuk mengeradikasi penyakit ini.
Dalam semua kasus, seekor nyamuk mula-mula menggigit seorang individu yang terjangkit lalu menggigit individu lain yang belum terjangkit, memindahkan beberapa larva cacing kepada individu yang baru. Saat berada di dalam tubuh, larva bermigrasi ke bagian tubuh tertentu dan tumbuh menjadi cacing dewasa. Filariasis (kaki gajah) digolongkan menjadi tiga jenis yang berbeda berdasarkan bagian tubuh yang terinfeksi. Klasifikasi tersebut adalah Limfatik Filariasis yang mempengaruhi sistem sirkulasi yang memindahkan cairan jaringan dan sel imun (sistem limfatik), Filariasis Subkutan menginfeksi area di bawah kulit dan bagian putih dari bola mata, Filariasis Rongga Serosa menginfeksi rongga tubuh namun tidak menyebabkan penyakit. Beberapa jenis cacing yang berbada bertanggung jawab untuk setiap jenis Filariasis, namun spesies yang paling sering adalah Wucheria Bancrofti, Brugia Malayi (Filariasis Limfatik), Onchocerca Voulvulus, Loa loa, Mansonella Streptocerca, Dracunculus Medinensis (Filariasis Subkutan), Mansonella Pustans dan Mansonella Ozzardi (Filariasis Rongga Serosa).
Dua tipe yang paling sering dari penyakit ini adalah Filariasis dari cacing Bancrofti dan Malayan yang menyebabkan Filariasis Limfatik. Varietas Bancrofti ini ditemukan di seluruh Afrika, Asia Selatan dan Asia Tenggara, Kepulauan Pasifik dan area tropis dan subtropis di Amerika Selatan dan Karibia. Malayan hanya ditemukan di Asia Selatan dan Asia Tenggara.
 Cacing Filariasis
Larva tumbuh menjadi cacing dewasa dalam enambulan sampai satu tahun dan dapat hidup antara empat dan enam tahun. Tiap cacing betina dapat memproduksi jutaan larva, dan larva-larva tersebut hanya muncul di dalam aliran darah saat malam hari, ketika mereka mungkin ditransmisikan, melalui gigitan serangga kepada individu lain. Sebuah gigitan tunggal biasanya tidak cukup untuk menimbulkan infeksi, sehingga pelancong jangka pendek biasanya aman. Gigitan berulang secara serial dalam periode tertentu diperlukan untuk menyebabkan suatu infeksi Sebagai akibatnya, individu yang terkena tersebut adalah yang biasa aktif di luar rumah pada malam hari dan mereka-mereka yang menghabiskan waktu yang banyak di area hutan pedalaman.
Diterjemahkan dari Gale Encyclopedia of Medicine (Carol A. Turkington) oleh dr. Dody Pratama Masri
Wanita berdarah Banyumas, Jawa Tengah, ini lahir di Jakarta pada 1 Februari 1955. Jabatan terakhir adalah peneliti di bagian Penelitian dan Pengembangan Departemen Kesehatan. Suami dari, Dr. Reanny Mamahit, SpOG, MM Direktur RSUD Tangerang ini memulai karirnya setelah lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia pada Februari 1979. Ibu dari dua putra dan satu putri ini kemudian melanjutkan spesialisasi Kesehatan Masyarakat di Harvard School of Public Health di Boston, Amerika Serikat tahun 1992. Program doktor dia ambil di bidang dan kampus yang sama dan lulus pada 1997 Endang pernah menjabat sebagai Direktur Pusat Penelitian Biomedik dan Farmasi dan Pengembangan Program sejak 2007 Depkes RI.
 Menteri Kesehatan
Nama ibu berkacamata ini menjadi kontroversi terkait proyek Naval Medical Research Unit 2 (Namru-2). Perjalanan karir Endang di Dinas Kesehatan cukup panjang. Selepas kuliah di FKUI, Endang sempat bekerja di Rumah Sakit Pertamina Jakarta, pada 1979-1980. Kemudian, pada 1980-1983, Endang berangkat ke Nusa Tenggara Timur. Di lokasi ini, Endang menjabat Kepala Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) di Waipare, NTT. Lalu, dia berlanjut tugas kembali ke Jakarta. Endang dipercaya bertugas di Dinas Kesehatan Propinsi DKI pada 1983-1997. Tidak hanya di level lokal dan Tanah Air, karir Endang juga terbilang gemilang di kancah dunia.
Di Badan Kesehatan Dunia (WHO), Endang memegang peran penting. Dia menjabat penasihat teknis pada Departemen Penyebaran Penyakit dan Respons di Geneva, Swiss, tahun 1997-2006.
Karir Endang terus moncer, hingga menjadi koordinator riset Avian Influensa tahun 2006. Kini, Endang menjabat Direktur Pusat Riset dan Pengembangan Biomedis dan Farmasi, Departemen Kesehatan sejak Februari 2007, sebelum akhirnya diangkat menjadi Menteri Kesehatan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
Pengangkatan dirinya sebagai Menteri Kesehatan di Kabinet Indonesia Bersatu jilid II oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, sungguh tidak terduga. Akan tetapi, Endang Rahayu tetap berkomitmen dalam menjalankan jabatan sebagai Menteri Kesehatan dengan sebaik-baiknya meskipun terkesan sebagai ”pemain cadangan” menggantikan posisi Nila Juwita Moeloek yang tidak lolos fit and proper test.
Seperti dikutip surat kabar Media Indonesia, pemegang gelar doktor dari Harvard School of Public Health ini menargetkan untuk memperpanjang harapan hidup masyarakat Indonesia melalui reformasi kesehatan. Endang mengakui, untuk merealisasikan hal tersebut pasti akan ada banyak tantangan. Meskipun demikian, ia optimistis bisa melakukannya. ”Bagi saya ini masa transisi yang mesti saya konsolidasikan dulu,” katanya.
Endang Rahayu muncul di Cikeas pada hari terakhir. Pada saat itu, ia sedang memberikan seminar di Hotel Horison, Bekasi, ketika tiba-tiba dikontak oleh Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi. Setelah menerima telepon tersebut, ibu tiga orang anak itu langsung meluncur ke Cikeas untuk ‘wawancara’ di hadapan Presiden Yudhoyono dan Wakil Presiden Boediono.
Pernah Diskors
Sepak terjang Endang di bidang kesehatan tidak perlu diragukan lagi. Perjalanan kariernya dimulai dengan menjadi dokter di RS Pertamina Jakarta, pada 1979. Setelah itu, perempuan kelahiran Jakarta, 1 Februari 1955, ini menjadi kepala puskesmas di Waipare, Nusa Tenggara Timur, sebelum kembali ke Jakarta dan bekerja untuk Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta.
Karier istri Dr. Renny Mamahit, SpOG, MM ini terus menanjak hingga ia berhasil menjadi penasihat teknik bidang penyakit menular di Kantor Pusat WHO di Jenewa, Swiss pada 2001, serta Koordinator Peneliti Program Flu Burung sejak 2006 hingga sekarang.
Sebelum dilantik secara resmi sebagai Menteri Kesehatan oleh Presiden Yudhoyono, Kamis (22/10), Endang sempat merasakan pengalaman pahit sewaktu menjabat sebagai Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Biomedis dan Farmasi, Badan Litbang Depkes, pada 2007 silam. Ketika itu, ia disingkirkan dan diturunkan jabatan menjadi peneliti oleh Menkes Siti Fadilah Supari yang kini digantikannya.
Penyebabnya, Endang memberikan 12 sampel virus flu burung kepada Pusat Penanggulangan dan Pencegahan Kontrol Penyakit Amerika Serikat (USCDCP) di Atlanta, Amerika Serikat. Hal itu bertentangan dengan Siti Fadilah yang tidak mau memberikan sampel virus karena berpandangan hal itu hanya menguntungkan pihak asing. Atas tindakannya itu, Endang diskors karena dianggap berpihak kepada Amerika Serikat.
Jabatan:
* Peneliti Utama pada Pusat Penelitian Biomedis dan Farmasi, Badan Litbang Depkes, sampai 21 Oktober 2009
* Kepala Pusat Penelitian Biomedis dan Farmasi, Badan Litbang Depkes, Februari 2007
* Koordinator Peneliti Program Flu Burung 2006-sekarang
* Penasihat teknik bidang penyakit menular di Kantor Pusat WHO-Jenewa, Juli-Desember 2001
* Peneliti di STD-AIDS-RTI Pengembangan Program dan Riset Pengawasan Penyakit, 1997-2006
* Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, 1983-1997
* Kepala Puskesmas Waipare, NTT, 1980-1983
* Dokter di RS Pertamina Jakarta, 1979-1980 (OL-08)
Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa, kami dokter Indonesia yang telah ikut aktif dalam pergerakan nasional dan perjuangan kemerdekaan bangsa, bertekad untuk melanjutkan cita-cita perjuangan dalam rangka mengisi kemerdekaan Indonesia demi tercapainya kehidupan rakyat yang sehat, adil dan makmur.
Taraf kesehatan perempuan Indonesia masih memprihatinkan seperti tercermin dari tingginya angka kesakitan dan angka kematian ibu maupun perinatal. Disadari bahwa kesehatan perempuan merupakan kondisi yang mutlak harus diperhatikan, karena dari perempuan yang sehat akan lahir generasi mendatang yang sehat sehingga mampu menjadi tumpuan harapan bangsa Indonesia untuk bersaing diantara bangsa di dunia terutama dalam era globalisasi.
Untuk mencapai kehidupan rakyat yang sehat, adil dan makmur dalam wadah negara kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, perlu ditingkatkan pengamalan profesi Obstetri Ginekologi dalam rangka meningkatkan kesehatan perempuan yang merupakan tugas dan tanggung jawab seluruh anggota Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia.
Peningkatan pengamalan profesi kepada masyarakat hanya mungkin dilakukan oleh anggota Perkumpulan Obstetri Ginekologi melalui peningkatan profesionalisme yang mencakup peningkatan ilmu dan ketrampilan, kesejawatan yang didasari oleh etika dan nilai-nilai luhur serta peningkatan rasa tanggung jawab profesi baik langsung kepada pasien maupun melalui peningkatan kualitas jaringan pelayanan Obstetri Ginekologi.
 Alm. Prof. Dr. Sarwono Prawirohardjo, SpOG (1954-1963)
Organisasi ini bernama Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (Indonesian Society of Obstetrics and Gynecology) disingkat POGI (ISOG). POGI didirikan pada tanggal 5 Juli 1954 di Jakarta, dengan ketua pertamanya adalah Alm. Prof. Dr. Sarwono Prawirohardjo, SpOG (1954-1963).
Kedudukan POGI semakin kuat dengan disahkan melalui akte notaris No. 28 tanggal 15 Juni 2001.
POGI adalah satu-satunya organisasi profesi yang menghimpun para Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi di Indonesia.
(Dikutip dari http://www.pogi.or.id)
ZAMAN PRIMITIF
Walaupun kita tidak memiliki riwayat sejarah tertulis, manusia purba menyediakan bagi kita fosil-fosil. Ini menunjukkan bahwa patologi yang sama telah ada sejak zaman kuno, walaupun penyebab lingkungan dari banyak dari penyakit zaman sekarang jarang ditemukan. Bukti adanya patah tulang ditemukan, yang beberapa penyembuhan terjadi dengan alignment yang cukup baik. Hal ini sangat menarik untuk dicatat, dimana memberikan kita informasi secara etis efek dari tidak dilakukan pengobatan sama sekali, seperti melakukan istirahat dengan insting dan gerakan awal (early motion). Tidak dapat disangkal lagi dalam beberapa bukti, manusia primitive membuat bidai yang sangat sederhana. Manusia primitive juga mungkin yang pertama melakukan amputasi sederhana terhadap ekstremitas dan jari, serta membuka tengkorak.
 Ancient Ortho Symbol
MESIR KUNO
Tubuh mumi, lukisan dinding dan hieroglif telah menunjukkan kita bahwa orangorang Mesir mengalami masalah yang sama dengan yang kita hadapi saat ini. Mereka juga menunjukkan kita beberapa praktek Orthopaedi dari zaman tersebut. Bidai telah ditemukan pada mumi yang terbuat dari bamboo, dahan, akar yang dilapisi kain. Juga terdapat penggunaan tongkat (crutch) dimana terdapat bukti pada ukiran yang dibuat pada 2830 BC pada pintu masuk Hirkouf Tomb.
Mungkin yang paling penting sumber yang melukiskan praktek di Mesir Kuno terdapat pada Papyrus, yang dicuri dari sebuah makam pada 1862. Papyrus itu kemudian dijual pada Egyptologist amerika yang bernama Edwin Smith sehingga kadang disebut dengan Edwin Smith Papyrus. Pengarangnya tidak diketahui, namun dipercayai adalah Imhotep. Imhotep dikenal sebagai seorang jenius pada masa itu. Dia adalah dokter, arsitek, astrolog dan juga perdana menteri yang tidak terlalu dikenal pada masa Mesir dan Yunani, dengan beberapa bukti bahwa dia baru dikenal luas 100 tahun setelah kematiannya.
Dalam papyrus tersebut, pemeriksaan perifer diterangkan bersama dengan pemahaman bahwa nadi mencerminkan aksi jantung dimana pembuluh darah berjalan menuju anggota gerak. Pada papyrus tersebut cedera diklasifikasi berdasarkan prognosis menjadi tiga kategori: suatu penyakit dimana akan ditangani, penyakit yang mereka akan berusaha tangani, dan penyakit yang merekatidakakan tangani. Papyrus juga menyebutkan banyak kasus dan penanganan-penanganan yang dilakukan. Ini termasuk, mereduksi dislokasi mandibul, tanda-tanda cedera spinal, tanda torticollis, penangan fraktur klavikula dan juga tanda dan penaganan fraktur lain. Discharge mereka sebut sebagai ryt, yang diduga sebagai pus pada osteomyelitis.
YUNANI KUNO
Banyak prinsip dibelakang kondisi dan penanganannya telah dihubungkan dengan Yunani Kuno. Mereka dapat dianggap sebagai yang pertama yang menerapkan pendekatan ilmiah, namun mereka juga yang pertama mendokumentasikan detail dari sejarah dan perkembangan mereka. Homer sendiri, pada kontribusinya dalam perang Trojan telah memberikan kita penglihatan yang cukup dalam pemahaman cedera saat itu dan penanganan yang dilakukan untuk cedera-cedera tersebut. Iliad juga mengandung referensi mengenai berbagai deformitas. Ahli anatomi Yunani dari Aleksandria, selama abad ketiga SM juga adalah kontribtor yang hebat. Herophilus, yang dipercaya telah mempraktekkan disseksi manusia, dihargai sebagai yang pertama membedakan syaraf atas komponen sensoris dan motorik dan juga yang pertama membedakan antara arteri dan vena. Hegetor juga dari Aleksandria, namun pada 100 SM, menerangkan dengan detail hubungan anatomi dari sendi panggul dan juga yang pertama menerangkan tentang ligamentum teres.
Pada periode 430 dan 330 SM, sebuah teks Yunani sangat penting disusun yang dikenal sebagai Corpus Hippocrates. Diberikan nama akhiran Hipokrates yang dikenal sebagai bapak kedokteran. Hipokrates dilahirkan di pulau Cos pada 460 BC dan meninggal di usia tua pada 370 BC. Dia dikenal telah membawa pendekatan sistematis dan ilmiah pada kedokteran dan telah menjelaskan untuk pertama kali posisi dan peran dokter dalam komunitas. Walaupun berabad-abad telah berlalu, Sumpah Hipokrates akan selalu menjadi pusat dari praktek kita.
Beragam bab dalam Corpus Hipokrates yang relevan dengan Orthopaedi. Salah satunya adalah bab mengenai sendi. Disini dislokasi bahu digambarkan bersama dengan metode reduksinya. Juga terdapat bagian menjelaskan reduksi akromioklavikular, temporomandibular, lutut dan panggul serta dislokasi sendi siku. Koreksi Clubfoot juga diterangkan. Masalah infeksi setelah fraktur compound telah diterangkan dan ditangani dengan pitch cerate dan kompres anggur tanpa perban yang kuat. Ekplorasi yang berlebihan terhadap fraktur compound juga telah dihindari.
Hipokrates mempunyai pemahaman yang menyeluruh terhadap fraktur. Dia mengetahui prinsip traksi dan counter-traksi. Dia mengembangkan bidai khusus untuk fraktur tibia, mirip dengan fiksasi eksternal. Hipokrates juga mengembangkan Kursi Hipokrates atau Scamnum. Dari semua perkembangan yang diberikan Hipokrates kepada kita, observasi klinisnya dan pemkiran rasionalnyalah yang paling harus kita hargai.
ERA ROMAWI
Walaupun pengajaran Hipokrates mendominasi pemikiran untuk beberapa abad setelah kematiannya, namun ada pula beberapa kontributor terhadap Orthopaedi yang berharga untuk disebut-sebut. Saat era Romawi, terdapat seorang figure Yunani yang dihormati bernama Galen (129-199 SM). Di berasal dari Pergamon dan menjadi ahli bedah gladiator di sana sebelum pindah ke Roma. Galen sering dianggap sebagai “Bapak Kedokteran Olahraga”. Dia memberikan pemahaman mengenai rangka dan otot yang menggerakkannya. Secara khusus, juga cara penyampaian sinyal dari otak menuju syaraf dan otot. Dia pertama mencatat mengenai kasus cervical ribs. Dia menjelaskan destruksi tulang, sequestrasi dan regenerasi pada osteomyelitis dan kadang melakukan reseksi pada kasus-kasus tersebut. Galen dipercaya menjadi yang pertama menggunakan istilah Yunani, “Kifosis, Lordosis dan Skoliosis” untuk deformitas yang diterangkan dalam teks Hipokrates. Dia juga merancang beberapa metode untuk mengoreksi deformitas tersebut.
Saat periode Graeco-Roman, terdapat juga upaya untuk menyediakan prosthesis buatan. Terdapat beberapa catatan mengenai tungkai kayu, tangan besi dan kaki palsu. Soranus dari Ephesus juga dikatakan telah pertama kali menerangkan mengenai rickets. Rufus dari Ephesus menerangkan ganglia tendon dan penangannya dengan kompresi. Antyllus pada abad ketiga dikatakan telah mempraktekkan tonotomi subkutan untuk meredakan kontraktur di sekitar sendi. Dikatakan pula dia telah menggunakan jahitan linen dan catgut untuk prosedur tersebut. Bermacam bor, gergaji dan pahat juga dikembangkan pada periode tersebut.
ERA ARAB
Walaupun praktek kedokteran Arab disangka sebagai ekstensi dari teks-teks Yunani, penggunaan Plaster of Paris pada Abad ke-10 sangat signifikan. Dengan penambahan air pada bubuk anhydrous calcium sulphate, maka sebuah material kristalin yang keras terbentuk. Seorang Persia bernama Abu Mansur Mufawwak menjelaskan pembungkusan plaster pada fraktur dan cedera tulang lainnya pada ekstremitas.
(Diterjemahkan oleh dr.Dody Pratama Masri dari http://www.worldortho.com)
Sebelum ada pendidikan resmi spesialis Bedah Orthopaedi, untuk mendapatkan keahlian ilmu bedah ini, seorang staf dosen ahli bedah dari bagian dikirim untuk tugas belajar ke luar negeri, khusus dalam bedah orthopaedi. FKUI mengirim dr. Soebiakto W ke Boston USA, dr Nagar Rasjid ke London-UK, dr Soelarto Reksoprodjo ke Paris-Perancis. Dari RSPAD Dr. Soejoto dikirim ke Walter Reed USA dan banyak staf RSPAD dikirim ke Kobe Jepang (dr Syamsul Ma’arif, dr Misban, dr Budiarso Sarwono, dr PT Simatupang dan dr Hara Marpaung).
 Orthopaedic Tree
Prof. Dr. R. Soeharso sebagai pendiri Pusat Rehabilitasi Surakarta, yang mendapat bantuan dari Ankatan Darat (Jenderal Gatot Soebroto) dan QHO beserta spesialis bedah orthopaedi dan fisioterapi dari berbagai Negara, beliau mengembangkan ilmu beah Orthopaedi dari segi rehabilitasi. Banyak cacat veteran korban perang merebut kemerdekaan Indonesia, yang memerlukan rehabilitasi fisik seperti pemberian kaki-tangan palsu (ortosis). Bersama Bapak Suroto, seorang teknisi, beliau mendirikan “bengkel kaki-tangan palsu”. Kemudian bengkel ini dikembangkan menjadi Pusat Rehabilitasi Solo yang dilengkapi dengan sarana pendidikan untuk paramedic rehabilitasi seperti sekolah perawat fisioterapi, perawat rehabilitasi (oleh Ibu Suroto), dan ortosis prosthesis (oleh Bapak Suroto). Selain Pusat Rehabilitasi, juga didirikan Rumah Sakit Lembaga Orhopaedi dan Prosthesis (LOP).
Orthopaedi Training di Indonesia
Pada Kongres WPOA di Hong Kong tahun 1968, Prof. Dr. R. Soeharso sempat membicarakan tentang pendidikan ahli bedah orthopaedi di Indonesia dengan Allan Mc Kelvie (USA) dan John Jen (Australia). Follow-up pembicaraan ini dilanjutkan dengan kunjungan survey oleh Prof. Hilman dari Campbell Clinic Tennessee (USA) ke Jakarta pada tahun 1968.
Pembicaraaan yang dilakukan bersama pimpinan FKUI/RSCM dan Prof. Dr. R. Soeharso dengan Prof. Hilman (CARE Medico Orthopaedic Overseas), memutuskan untuk mengadakan pendidikan berupa Orthopaedic Training Program di FKUI/RSCM sebagai wakil P & K dan DepKes, dengan bantuan CARE Medico dari Orthopaedic Overseas.
Pada tanggal 1 Oktober 1968 dimulailah pendidikan Orthopaedic Training Program dengan gur atau konsultan yang dating dari Amerika Utara dan Australia secara bergantian setiap bulan.
Konsultan pertama adalah Dr. Harry Fahrni dari Vancouver Canada bersama istrinya Jeanne Fahrni (seorang perawat kamar bedah) yang turut membantu beliau di kamar operasi.
Pendidikan Orthopaedic Training Program berlangsung selama 2 tahun setelah ahli bedah. Lahan pendidikan selain RSCM adalah RS Fatmawati setiap hari Rabu dan Jumat, YPAC setiap hari Selasa dan RS Solo pada akhir pendidikan. Sebagai trainee pertama adalah dr Sumanto yang pada saat itu sedang bertugas di UNAND, Padang dan dr Syahbudin Tajib Salim, ahli bedah RS Fatmawati. Namun baru 1 bulan berjalan , dr Sumanto tidak dapat meneruskan pendidikan, diganti oleh dr Soelarto Reksoprodjo. Dengan keikutsertaan dr Soelarto dalam program pendidikan ini, dimana setiap jumat dr Soelarto senantiasa membantu menanggulangi kasus orthopaedi di RS PMI Bogor, maka secara tidak resmi RSPMI Bogor pun dikunjungi setiap minggu, setelah acara RS Fatmawati. Apalagi pada saat itu kasus orthopaedi di RS Fatmawati umumnya adalah kasus TBC tulang belakang, dan belum banyak kasus orthopaedi. KUnjungan ke RS PMI Bogor diisi dengan melakukan konsultasi dan operasi kasus orthopaedi terutama fraktur. Dr Indradi Roosheroe sebagai direktur RS PMI( Bogor akhirnya tertarikuntuk ikut menjadi peserta pendidika, dan turut bergabung setelah dr Chehab Rukni Hilmy (UI) dan dr IP Sukarna (UNAIR) yang lebih dahulu menjadi trainee pada 1969, dr Subroto Sapardan (UI) dan dr Ichwan P Radjamin (UNAIR) pada tahun 1970, dr R Saleh Mangunsudirjo (UNDIP) dan dr Indradi Roosheroe pada tahun 1971.
Demikianlah pendidikan ini berlangsung seterusnya. Sejak tahun 1973 peserta setiap semester menjadi 4 orang, dimulai oleh dr Chairuddin Rasyad (UNHAS), dr Djoko Roeshadi (UNAIR), dr Ahmad Djojosugito (UNPAD) dan dr Errol Untung Hutagalung (UI), yang merupakan trainee terakhir yang mengikuti secara penuh orthopaedic training program bantuan Orthopaedic Overseas sampai dengan 1975.
Pada bulan November 1974 PABOI (Perkumpulan Ahli Bedah Orthopaedi Indonesia) menyelenggarakan Pertemuan Ilmiah International, yang pada saat itu sudah beranggotakan 17orang. Pertemuan tersebut dinyatakan sebagai Kongres I PABOI. Pada saat evaluasi semi-annual bulan Mei 1975, pemerintah RI cq DepKes menghentikan program pendidikan bantuan CARE Medico. Selanjutnya pendidikan dilaksanankan oleh ahli dari Indonesia sendiri. Segera setelah itu PABOI sebagai perkumpulan profesi membuat kurikulum pendidikan ahli bedah orthopaedi.
Pada tahun 1975 semua jenis pendidikan diambil alih oleh P & K dan pendidikan ahli yang dulu dilaksanakan oleh perkumpulan profesi dijadikan Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dibawah P & K.
Dalam spesialisasi, berdasarkan prioritas yang dibutuhkan Negara, hanya 14 jenis program pendidikan dokter spesialis yang mendapat pengakuan oleh CMS (Consortium Medical Sciences). Istilah CMS kemudian berubah menjadi CHS (Consortium Health Sciences). Walaupun demikian pendidikan ahli bedah orthopaedi tetap berlangsun. Di Bandung, (sebagai tempat kelahiran PABOI pada tanggal 25 September 1969), dalam pidatonya, Mentreri P & K yang dibacakan oleh Dirjen Dikti Prof. Doddy, Departemen P & K menyatakan pengakuan Orthopaedi sebagai PPDS. Oleh karenanya pendidikan ini dapat menerima sebagian pesertanya yang terdiri dari dokter umum setelah melaksanakan WKS (wajib kerja sarjana di puskesmas) dan realisasinya baru mulai terlaksana pada bulan januari 1981. Pendidikan berlangsung berdasarkan catalog kurikulum PPDS yang diakui CHS dengan jumlah SKS 100 yang terdiri dari:
-
Pengetahuan teori dasar bedah orthopaedi (8 SKS)
-
Pengetahuan teori klinik bedah dasar umum dan khusus bedah (8 SKS)
-
Pengetahuan teori klinik khusus orthopaedi (12 SKS)
-
Keterampilan (diagnostic) (5,5 SKS)
-
Pengetahuan penggunaan alat (1 SKS)
-
Tindakan perawatan non operatif (3,5 SKS)
-
Tindakan operatif (38,5 SKS)
-
Tanggung jawab (6 SKS)
-
Kegiatan Ilmiah (14 SKS)
-
Kegiatan mendidik (3 SKS)
-
Teori penelitian dasar atau lanjutan dan penulisan tesis (2,5 SKS)
Katalog ini kemudian diperbaharui menjadi 2 tahun bedah dasar dan 2,5 tahun khusus orthopaedi. Pusat pendidikan yang ditunjuk adalah Jakarta (UI) dan Surabaya (UNAIR). Dengan demikian produksi ahli atau spesialis bedah orthopaedi dapat berkembang lebih pesat.
Walaupun sudah tidak ada hubungan secara resmi dengan luar negeri, namun karena tetap ada jalinan hubungan pribadi, maka ujian akhir ilmu Bedah Orthopaedi yang dilaksanakan oleh PABOI dan pusat pendidikan, tetap mengikut-sertakan penguji luar terutama dari Australia dan Singapura, bahkan juga dari Amerika, Kanada, Perancis, dan Jepang. Sampai saat ini ujian akhir tetap diselenggarakan oleh PABOI bekerjasama dengan pusat pendidikan, dengan mengundang penguji luar dari Singapura dan Australia.
Pusat pendidikan pun bertambah dengan UNPAD Bandung pada tahun 1988 dan sekarang UNHAS Ujung Pandang telah pula menjadi pusat pendidikan ke 4 (empat). Ujian akhir tetap diselenggarakan oleh PABOI sebagai salah satu kegiatannya yang dilakukan melalui kerjasama dengan pusat pendidikan, dengan cara bergiliran tempat serta pelaksanaannya di pusat pusat pendidikan setiap tahun (2 kali/setahun)
Di samping pendidikan dokter spesialis orthopaedi, PABOI sebagai perkumpulan profesi telah mempunyai peserta seminatan dalam bidang tertentu dalam lingkungan bedah orthopaedi. Bedah tulang belakang sejak bulan juli 1994 telah menyelenggarakn Fellowship Training in Spine Surgery bagi mereka (spesialis bedah orthopaedi) yang ingin mendalami bedah tulang belakang di Jakarta oleh FKUI dibawah koordinasi pimpinan dr Subroto Sapardan. Setiap semester bisa menerima seorang peserta. Peserta fellowship ini dikirim ke USA selama 3 bulan belajar di tempat Prof Hansen A Yuan, Syracuse University of New York USA. Pendidikan fellowship ini selama 1 (satu) tahun. Dalam berbagai bidang keahlian atau spesialisasi , muncul kelompok seminatan seperti bedah tangan (hand surgery), paediatrik dan seterusnya sesuai dengan perkembangan dunia internasional terutama dari WPOA (Western Pacific Orthopaedic Association) yang sekarang berubah menjadi APOA (Asia Pacific Orthopaedi Association). Diambil dari buku ….. prof soelarto reksoprodjo. (dikutip dari http://orthoui-rscm.org)
Duniakedokteran.com adalah sebuah website yang bertemakan kedokteran dan kesehatan. Website ini didedikasikan untuk semua orang yang membutuhkan informasi mengenai kedokteran dan kesehatan.
Semoga Bermanfaat,
Salam Sehat
|
|
Recent Comments